Wanita
Sang Pencerah
Siti Latifah Susilowati
atau yang sangat kerap dipanggil Susi itu, lahir di Magelang pada tanggal 19
November 1968. Beliau terlahir dalam keluarga yang sederhana dan tidak terlalu
kaya, beliau merupakan anak pertama dari 6 bersaudara. Tentu saja tak mudah bagi
beliau karena harus bisa menjadi panutan yang baik bagi adik-adiknya. Meskipun
demikian, beliau adalah sosok wanita yang sangat tangguh dan memiliki hati
mulia. Beliau adalah seorag ibu dari 3 orang anak yang bisa menjadi panutan
bagi anak-anaknya.
Pada tanggal 1973
beliau mulai menginjakan langkahnya didunia pendidikan. Beliau mulai menduduki
sekolah dasar di SD Krincing tepatnya di Secang Kabupaten Magelang. Sejak kecil
beliau sudah terbiasa hidup mandiri. Orang tua beliau selalu menerapkan untuk menjadi
sosok yang bisa diandalkan dan berguna bagi orang lain. Hal tersebut memang
benar adanya dengan hal yang sederhana saja. Beliau harus bisa membagi apa yang
ia dapat kepada adik-adiknya. Masa kecil beliau tidak seperti anak jaman
sekarang yang tercukupi atau apapun yang diinginkan dapat terpenuhi dengan
mudahnya. Tidak degan wanita satu ini, beliau harus bekerja keras untuk
mendapatkan apa yang ia inginkan. Setiap hari beliau harus mencari air bersih
di sungai bersama adiknya dan membawanya kerumah kecilnya untuk memenuhi
kebutuhan. Tak hanya itu, beliau juga harus melakukan pekerjaan rumah sepeti
mencuci baju di sungai, menyapu, dan mencuci piring. Beliau juga harus membagi
waktunya untuk menjaga adik-adiknya. Hal seperti itu sudah beliau lakukan sejak
menginjak sekolah dasar.
Tahun 1979 beliau
berhasil menyelesaikan sekolah dasar dan melanjutkan kejenjang yang lebih
tinggi di sekolah menengah pertama negeri satu Secang. Pada masa ini beliau
harus berjalan kaki untuk sampai di sekolahnya. Jarak yang cukup jauh sekitar 3
km tak menjadi penghalang baginya untuk mencari ilmu. Pada masa ini juga beliau
mulai membantu ibunya untuk memanen padi. Tingkat kreatifitas yang mulai
berkembang dari sosok wanita ini, beliau mulai mencari cara untuk mendapatkan
uang. Beliau mulai mencari dan mengumpulkan sisa padi yang jatuh dan kemudian
dijual. Hasil uang dari jual padinya bisa dijadikan untuk uang saku, setidaknya
ia bisa merasakan apa yang disebut “jajan” karena orang tua beliau yang tidak
pernah memberikan uang saku lebih padanya, uang saku yang sangat sedikit bahkan
bisa dikatakan kurang.
Setelah lulus dari SMP
beliau melanjutkan sekolahnya di SMAN 2 Temanggung. Masa inilah beliau mendapat
uang saku yang cukup. Setidaknya beliau bisa menaiki bis menuju sekolahnya. Pada
masa ini pula pemikiran beliau mulai berkembang, karena intelektualnya yang
cukup baik dan kepandaiannya dalam bahasa, beliau mulai menjual karya puisinya
kepada teman-temannya. Puisi yang sangat indah seperti puisi yang bertemakan
percintaan, sangat laku dikalangan SMA saat itu. Dengan cara tersebut beliau
medapatkan uang saku tambahan. Walaupun beliau sangat kurang dalam segi ekonomi
namun hal tersebut tidak menjadi penghambat bagi beliau untuk menonjolkan
prestasinya di sekolah. Beliau pernah menjuarai lomba renang antar SMA saat
itu.
Pada tahun 1985 setelah
lulus SMA beliau melanjutkan pendidikannya diperguruan tinggi IKIP Semarang
atau sekarang yang lebih akrab dengan nama Universitas Negeri Semarang. Beliau
mulai mengembangkan kemampuannya seperti menjual kaos kaki rajut buatannya dan
pakaian. Hal tersebut beliau lakukan untuk mencukupi kebutuhannya semasa
kuliah. Pendidikan beliau harus terhenti sampai diploma karena ekonomi keluarga
yang mulai mengalami krisis.
Sampai tiba waktunya
ketika beliau menemukan pujaan hatinya dan mengikatnya secara sah. Beliau
menjadi seorang istri yang baik. Kehidupan ekonomi keluarga mulai membaik.
Berkat ketekunan, keuletan, kegigihan, dan kerja kerasnya beliau dapat
mendirikan usaha kecil beliau menjadi seorang penjahit dengan memiliki 4 orang
karyawan tetap. Beliau pantang menyerah demi membuat anaknya bahagia dan selalu
berusaha dalam mencukupi keinginan anak-anaknya. Tak hanya itu, beliau juga
selalu menerapkan jiwa kepemimpianan dan jangan pernah menyerah dalam kondisi
apapun karena Tuhan sealu melihat usaha hambanya dan Tuhan akan memberikan
setimpal dengan usahanya. Berkat kerja kerasnya beliau dapat menghidupi
keluarga kecilnya yang harmonis bersama suami tercinta.

