Tragedi
Om Telolet Om
Magelang, kota sejuta
bunga yang amat sejuk dengan berbagai macam tanaman di sepanjang jalan dan
berbagai keunikan yang menyelimuti kota tersebut. Berawal dari sebuah desa
kecil yang sederhana. Perbatasan antara kota dan kabupaten. Udara yang masih
segar, ditambah dengan lahan hijau sawah yang sejuk dan indah dipandang mata.
Sri hendak bermain bersama teman-temannya, ia segera menyiapkan peralatan
khusus yang digunakan untuk menangkap ikan.
“Mas, mau ikut Sri
mencari petho, tidak?” Tanya Sri kepada Didin sambil memasukkan seser ikan ke dalam
ember.
“Enggak Sri.” Balas
Didin tanpa menoleh, ia sedang asik dengan ponsel milikya.
“Mas Didin lihat apa
sih?” Tanya Sri yang duduk disebelahnya sambil mengamati apa yang sedang
dilihat oleh kakaknya itu.
“Apa sih itu Mas?”
lagi-lagi Sri bertanya.
“Itu lho Sri, yang lagi
ngehits, Om Telolet Om.” Jelas Didin kepada Sri.
“Ya sudah jika Mas
nggak mau ikut, Sri mau cari petho dulu, pamitin Ibu ya Mas.” Ucap Sri kepada
Didin yang dibalas dengan anggukan kecil. Kemudian Sri segera pergi
meninggalkan Didin.
Sri dan teman-temannya
pergi mencari petho dan keong dengan menyusuri pematang sawah sambil melihat
dengan jeli ke bawah. Sri kegirangan ketika mendapat beberapa ikan petho
kemudian memasukkannya ke dalam ember. Tak lama setelah mencari ikan, Sri
bertemu dengan Mas Parto, anak ketua RT yang usianya sama dengan Didin beserta
beberapa teman-temannya.
“Sri, Didin ada di
rumah?” Tanya Parto.
“Ada sih Mas tadi,
memangnya ada apa Mas?”
“Mau berburu Telolet,
Sri mau ikut?” Ajak Parto.
“Endak ah Mas, Sri
masih mau cari petho, lho Mas Parto bawa apa?” Tanya Sri yang penasaran dengan
sebuah kertas yang dibawa oleh Parto.
“Oh ini.” Parto
menunjukkan kepada Sri kertas tersebut, Parto membuka lintingan kertas putih
tersebut yang bertuliskan dengan huruf kapital “OM TELOLET OM”. Hal tersebut
hanya di balas dengan anggukan dan mulut membulat.
“Ya sudah Sri, aku mau
berburu Telolet dengan Didin, ke pinggir jalan raya.” Ujar Parto meninggalkan
Sri.
Setelah puas mencari
petho, Sri beserta teman-temannya pun pulang ke rumah. Ia duduk kursi panjang
di depan rumah, ia duduk di sebelah Ibunya yang sedang asik mengobrol dengan
tetangganya.
“Sri, “Didin ke mana,
sudah sejak pagi tadi aku tidak melihat wajahnya? “ tanya Bu Janah.
“Mas Didin pergi
bersama teman-temannya ke pinggir jalan raya. Katanya sih mau Telolet, Bu, “
jawab Sri.
“O alah, Din, Telolet
ki panganan opo. Lha, mbok baca sholawat di rumah bisa untuk sangu akhirat.”
Ucap Bu Janah
“Itu lho Bu yang lagi
tren sekarang ini, kita teriak Telolet ketika ada bus lewat, kemudia supir bus
tersebut membunyikan klakson busnya. Mas Didin ikutan biar kekinian Bu.” Jelas
Sri panjang lebar.
“Kekinian ki opo meneh
nduk, Ibu gak ngerti.” Ucap Bu Janah.
“Kekinian itu keadaan
atau sesuatu hal yang sedang tren saat ini atau sedang booming saat ini Bu,
yang kebanyakkan ditiru oleh khalayak banyak.” Jelas Sri.
“Ya sudah sana kamu jemput
Mas Didin, suruh pulang.” Perintah Bu Janah.
Sri pamit kemudian ia
berjalan menyusuri pinggir jalan yang ramai dengan berbagai kendaraan yang
lewat. Sri mendekati Didin dan menyuruhnya untuk pulang. Mereka berdua jalan
pulang dengan selamat sampai rumah.
“Dapet Telolet berapa
Mas Didin?” Tanya Bu Janah.
“Dapat banyak Bu,
hehehe.” Ucapnya sambil tertawa.
“Aneh-aneh aja lho kamu
tu Din, ya sudah sana mandi terus mengaji, Pak Salimun sudah menunggu di masjid.”
Didin hanya mengangguk
dan segera melaksanakan perintah Ibunya. Beginilah kisah seorang bocah desa
yang ingin mengikuti perkembangan jaman yang semakin tidak karuan. Walaupun mengikuti
tren yang ada Didin tetap mematuhi dan menghormati perintah orang tua, tak lupa
menjalankan kewajibannya.


