Minggu, 25 Desember 2016

Ujian Praktik Bahasa Indonesia

Tragedi Om Telolet Om

Magelang, kota sejuta bunga yang amat sejuk dengan berbagai macam tanaman di sepanjang jalan dan berbagai keunikan yang menyelimuti kota tersebut. Berawal dari sebuah desa kecil yang sederhana. Perbatasan antara kota dan kabupaten. Udara yang masih segar, ditambah dengan lahan hijau sawah yang sejuk dan indah dipandang mata. Sri hendak bermain bersama teman-temannya, ia segera menyiapkan peralatan khusus yang digunakan untuk menangkap ikan.
“Mas, mau ikut Sri mencari petho, tidak?” Tanya Sri kepada Didin sambil memasukkan seser ikan ke dalam ember.
“Enggak Sri.” Balas Didin tanpa menoleh, ia sedang asik dengan ponsel milikya.
“Mas Didin lihat apa sih?” Tanya Sri yang duduk disebelahnya sambil mengamati apa yang sedang dilihat oleh kakaknya itu.
“Apa sih itu Mas?” lagi-lagi Sri bertanya.
“Itu lho Sri, yang lagi ngehits, Om Telolet Om.” Jelas Didin kepada Sri.
“Ya sudah jika Mas nggak mau ikut, Sri mau cari petho dulu, pamitin Ibu ya Mas.” Ucap Sri kepada Didin yang dibalas dengan anggukan kecil. Kemudian Sri segera pergi meninggalkan Didin.
Sri dan teman-temannya pergi mencari petho dan keong dengan menyusuri pematang sawah sambil melihat dengan jeli ke bawah. Sri kegirangan ketika mendapat beberapa ikan petho kemudian memasukkannya ke dalam ember. Tak lama setelah mencari ikan, Sri bertemu dengan Mas Parto, anak ketua RT yang usianya sama dengan Didin beserta beberapa teman-temannya.
“Sri, Didin ada di rumah?” Tanya Parto.
“Ada sih Mas tadi, memangnya ada apa Mas?”
“Mau berburu Telolet, Sri mau ikut?” Ajak Parto.
“Endak ah Mas, Sri masih mau cari petho, lho Mas Parto bawa apa?” Tanya Sri yang penasaran dengan sebuah kertas yang dibawa oleh Parto.
“Oh ini.” Parto menunjukkan kepada Sri kertas tersebut, Parto membuka lintingan kertas putih tersebut yang bertuliskan dengan huruf kapital “OM TELOLET OM”. Hal tersebut hanya di balas dengan anggukan dan mulut membulat.
“Ya sudah Sri, aku mau berburu Telolet dengan Didin, ke pinggir jalan raya.” Ujar Parto meninggalkan Sri.
Setelah puas mencari petho, Sri beserta teman-temannya pun pulang ke rumah. Ia duduk kursi panjang di depan rumah, ia duduk di sebelah Ibunya yang sedang asik mengobrol dengan tetangganya.
“Sri, “Didin ke mana, sudah sejak pagi tadi aku tidak melihat wajahnya? “ tanya Bu Janah.
“Mas Didin pergi bersama teman-temannya ke pinggir jalan raya. Katanya sih mau Telolet, Bu, “ jawab Sri.
“O alah, Din, Telolet ki panganan opo. Lha, mbok baca sholawat di rumah bisa untuk sangu akhirat.” Ucap Bu Janah
“Itu lho Bu yang lagi tren sekarang ini, kita teriak Telolet ketika ada bus lewat, kemudia supir bus tersebut membunyikan klakson busnya. Mas Didin ikutan biar kekinian Bu.” Jelas Sri panjang lebar.
“Kekinian ki opo meneh nduk, Ibu gak ngerti.” Ucap Bu Janah.
“Kekinian itu keadaan atau sesuatu hal yang sedang tren saat ini atau sedang booming saat ini Bu, yang kebanyakkan ditiru oleh khalayak banyak.” Jelas Sri.
“Ya sudah sana kamu jemput Mas Didin, suruh pulang.” Perintah Bu Janah.
Sri pamit kemudian ia berjalan menyusuri pinggir jalan yang ramai dengan berbagai kendaraan yang lewat. Sri mendekati Didin dan menyuruhnya untuk pulang. Mereka berdua jalan pulang dengan selamat sampai rumah.
“Dapet Telolet berapa Mas Didin?” Tanya Bu Janah.
“Dapat banyak Bu, hehehe.” Ucapnya sambil tertawa.
“Aneh-aneh aja lho kamu tu Din, ya sudah sana mandi terus mengaji, Pak Salimun sudah menunggu di masjid.”
Didin hanya mengangguk dan segera melaksanakan perintah Ibunya. Beginilah kisah seorang bocah desa yang ingin mengikuti perkembangan jaman yang semakin tidak karuan. Walaupun mengikuti tren yang ada Didin tetap mematuhi dan menghormati perintah orang tua, tak lupa menjalankan kewajibannya.

1 komentar:

  1. OK, terima kasih. Saya menghormati keorisinalan cerita ini. Artinya ini asli darimu. Penulisan tanda baca dalam dialog perlu dicek ulang. Sudahkan sesuai dengan kaidah penulisan? Misalnya --> “Dapet Telolet berapa Mas Didin?” Tanya Bu Janah. yang benar ---> ... Didin?" tanya Didin (t tidak kapital)
    “Dapat banyak Bu, hehehe.” Ucapnya sambil tertawa --> ... hehehe, " ucapnya sambil tertawa. Coba bandingkan dengan cerpen tulisan saya dalam blog ini. Bagian akhir cerita ---> Beginilah ... tidak perlu menggurui demikian, kesannya seperti cerita anak kecil

    BalasHapus